Hydnellum peckii mengeluarkan cairan merah mirip darah melalui proses gutasi dan mengandung senyawa medis anti koagulan.
Jika Anda berjalan-jalan di hutan konifer Amerika Utara atau Eropa dan menemukan gumpalan putih yang meneteskan cairan kental berwarna merah delima, jangan panik. Anda tidak sedang melihat sisa potongan tubuh hewan atau adegan kriminal, melainkan sedang melihat salah satu jamur paling eksentrik di dunia, yaitu Hydnellum peckii. Karena penampilannya yang mencolok dan sedikit mengerikan, jamur ini mendapatkan banyak julukan menyeramkan, mulai dari Bleeding Tooth Fungus (Jamur Gigi Berdarah) hingga Devil's Tooth (Gigi Iblis). Namun, bagi mereka yang berpikiran lebih positif, jamur ini juga disebut sebagai Strawberries and Cream karena kemiripannya dengan hidangan penutup stroberi dan krim.
Jamur ini termasuk dalam genus Hydnellum, yang dikenal sebagai jamur gigi karena bagian bawah tudungnya tidak memiliki insang (gills) seperti jamur kancing, melainkan memiliki duri-duri halus (teeth) tempat spora diproduksi. Meskipun penampilannya sangat mengintimidasi seolah-olah beracun mematikan, Hydnellum peckii sebenarnya tidak beracun (non-toksik). Namun, para ahli mikologi sangat tidak menyarankan untuk memakannya. Mengapa? Karena rasa daging jamur ini digambarkan sangat pahit dan pedas, seperti memakan lada murni yang dicampur empedu, sehingga dikategorikan sebagai inedible atau tidak layak konsumsi.
Fenomena Gutasi Yang Menipu Mata
Pertanyaan terbesar yang muncul saat melihat jamur ini adalah: "Darah apa itu?" Secara ilmiah, cairan merah tersebut bukanlah darah, getah luka, ataupun infeksi. Fenomena keluarnya cairan ini disebut sebagai gutasi (guttation). Ini adalah proses fisiologis yang juga terjadi pada banyak tumbuhan vaskular, namun terlihat sangat dramatis pada jamur ini. Gutasi terjadi ketika tanah di sekitar jamur memiliki kelembapan yang sangat tinggi atau jenuh air.
Dalam kondisi tersebut, tekanan air di dalam akar atau miselium jamur menjadi sangat tinggi karena proses osmosis (penyerapan air) yang terus berlangsung. Untuk menyeimbangkan tekanan internal agar sel-selnya tidak pecah, jamur harus membuang kelebihan air tersebut. Air didorong keluar melalui pori-pori di permukaan tudung jamur. Pada Hydnellum peckii, air yang keluar ini melarutkan pigmen warna merah yang ada di dalam tubuh jamur, sehingga saat muncul di permukaan, ia terlihat seperti tetesan darah kental. Fenomena "berdarah" ini biasanya hanya terjadi pada jamur muda yang sedang tumbuh aktif dan metabolisme cairannya sedang tinggi. Saat jamur menua dan mengering, ia akan berubah warna menjadi cokelat kusam dan berhenti "berdarah".
Kandungan Kimia: Atromentin
Warna merah cerah pada cairan gutasi tersebut bukan sekadar pewarna alami biasa. Analisis kimia menunjukkan bahwa pigmen tersebut berasal dari senyawa bernama Atromentin. Senyawa ini memiliki struktur kimia yang mirip dengan heparin, sebuah zat antikoagulan (pengencer darah) yang umum digunakan dalam dunia medis untuk mencegah pembekuan darah. Ini adalah ironi biologi yang menarik: jamur yang terlihat seperti sedang pendarahan ternyata mengandung zat yang justru bisa mencegah darah membeku.
Selain potensi antikoagulan, penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa ekstrak dari Hydnellum peckii juga memiliki sifat antibakteri. Ia diketahui efektif melawan bakteri Streptococcus pneumoniae, salah satu penyebab penyakit pneumonia pada manusia. Potensi medis ini membuat "Gigi Iblis" ini menjadi objek penelitian farmakologi modern untuk pengembangan antibiotik atau obat pengencer darah alami di masa depan.
Simbiosis Hutan Pinus
Di balik penampilannya yang menyeramkan, Hydnellum peckii sebenarnya adalah "orang baik" di ekosistem hutan. Ia adalah jenis jamur mikoriza (*mycorrhizal*), yang berarti ia hidup bersimbiosis saling menguntungkan dengan akar pohon, terutama pohon pinus dan konifer lainnya. Miselium jamur ini membungkus akar pohon dan membantu pohon menyerap mineral serta air dari tanah yang sulit dijangkau. Sebagai imbalannya, pohon memberikan gula hasil fotosintesis kepada jamur.
Hubungan ini sangat vital bagi kesehatan hutan. Tanpa bantuan jamur seperti Hydnellum peckii, pohon-pohon pinus tua mungkin akan kesulitan mendapatkan nutrisi yang cukup untuk tumbuh menjulang tinggi. Jadi, meskipun ia tampak seperti parasit yang berdarah-darah di lantai hutan, ia sebenarnya adalah pendukung kehidupan yang setia bagi pepohonan di sekitarnya.
Kesimpulan
Hydnellum peckii adalah pengingat visual yang kuat bahwa di alam liar, penampilan bisa sangat menipu. Apa yang tampak mengerikan dan berbahaya ternyata bisa jadi tidak beracun dan justru bermanfaat bagi ekosistem. Cairan "darah" yang ia keluarkan hanyalah mekanisme pembuangan air yang sederhana, namun dikemas dalam estetika alam yang dramatis.
Bagi para penjelajah hutan dan pecinta alam, menemukan jamur ini adalah sebuah keberuntungan visual. Ia mengajarkan kita untuk melihat lebih dalam dari sekadar permukaan, memahami proses biologi di balik fenomena aneh, dan menghargai keanekaragaman bentuk kehidupan jamur yang tak terbatas.
- Mycology Journal - "Secondary Metabolites of Hydnellum peckii".
- Encyclopedia of Life - "Hydnellum peckii: The Bleeding Tooth Fungus".
- American Mushroom - "Guttation in Fungi explained".
Komentar