Virus raksasa Pithovirus hidup kembali di permafrost Siberia dan mampu menginfeksi inang setelah terkubur 30.000 tahun.
Di kedalaman tanah beku Siberia (Permafrost) wilayah Chukotka, suhu ekstrem telah menghentikan waktu selama ribuan tahun. Wilayah ini adalah "lemari pendingin" alami bumi yang mengawetkan sejarah kehidupan purba. Namun, pada tahun 2014, ketenangan ribuan tahun itu terusik. Tim ilmuwan dari Aix-Marseille University, Prancis, yang dipimpin oleh Jean-Michel Claverie dan Chantal Abergel, melakukan pengeboran sedalam 30 meter ke dalam lapisan es. Tujuan awal mereka adalah mempelajari sedimen purba, namun yang mereka temukan justru mengejutkan dunia biologi: sebuah entitas biologis yang telah tertidur sejak zaman manusia purba Neanderthal masih berjalan di muka bumi.
Entitas itu adalah Pithovirus sibericum, sebuah virus purba berusia 30.000 tahun. Yang mencengangkan bukanlah usianya, melainkan kondisinya. Setelah dibawa ke laboratorium dan "dicairkan" secara perlahan, virus ini ternyata tidak mati. Ia hanya dalam kondisi dorman (tidur panjang). Begitu suhu menghangat, ia langsung aktif kembali, seolah-olah 300 abad yang ia lewati hanyalah tidur siang sekejap.
Raksasa Dunia Nano Kendi Yunani Kuno
Dalam buku teks biologi konvensional, virus didefinisikan sebagai partikel super kecil (10-100 nanometer) yang hanya memiliki sedikit gen. Virus Influenza, misalnya, hanya punya 8 gen. HIV hanya punya 9 gen. Mereka dianggap "makhluk sederhana". Namun, Pithovirus menghancurkan definisi itu. Ia masuk dalam kategori Giant Virus atau Virus Raksasa.
Ukurannya mencapai 1.500 nanometer (1,5 mikrometer), menjadikannya virus terbesar yang pernah ditemukan, bahkan lebih besar dari beberapa bakteri parasit. Jika virus flu diibaratkan sebesar bola tenis, maka Pithovirus adalah sebesar gedung berlantai dua. Secara fisik, bentuknya juga aneh. Ia tidak bulat atau menyerupai paku seperti virus Corona, melainkan berbentuk lonjong tebal dengan dinding tebal, menyerupai kendi penyimpanan anggur Yunani kuno (pithos), yang menjadi asal-usul namanya. Di salah satu ujungnya, terdapat struktur unik menyerupai "gabus penutup" yang memiliki fungsi mematikan.
Mekanisme Pembunuhan Membajak Pabrik Sel
Kengerian virus ini terbukti saat ilmuwan mempertemukannya dengan Amoeba (Acanthamoeba castellanii) di cawan petri. Pithovirus menggunakan taktik "Kuda Troya". Ia membiarkan dirinya ditelan oleh amoeba yang mengiranya sebagai makanan (karena ukurannya mirip bakteri lezat). Namun, begitu masuk ke dalam perut amoeba, "gabus penutup" di ujung virus terbuka.
Dari lubang itu, materi genetik virus keluar dan langsung mengambil alih komando sel amoeba. Berbeda dengan virus modern yang sering kali masuk ke inti sel inang (nukleus) untuk menggandakan diri, Pithovirus begitu canggih dan mandiri sehingga ia mendirikan "pabrik replikasi" sendiri di dalam cairan sel (sitoplasma) amoeba. Ia memaksa tubuh amoeba untuk memproduksi ratusan kopi virus baru. Dalam hitungan jam, tubuh amoeba membengkak dan akhirnya meledak (lysis), memuntahkan pasukan virus baru yang siap mencari mangsa lain.
Peringatan Dari Kutub Utara
Meskipun Pithovirus sibericum hanya berbahaya bagi amoeba dan aman bagi manusia, penemuannya membawa pesan peringatan yang serius. Pemanasan global menyebabkan lapisan permafrost di kutub mencair dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Lapisan es ini bukan hanya menyimpan virus amoeba, tapi juga berpotensi menyimpan patogen yang pernah menjadi wabah bagi manusia di masa lalu, seperti virus cacar (smallpox) atau jenis flu purba yang sistem imun manusia modern sudah tidak mengenalinya.
Ditambah lagi dengan aktivitas pertambangan dan pengeboran minyak di Arktik yang semakin masif, risiko manusia terpapar "hantu masa lalu" ini semakin besar. Seperti yang dikatakan Claverie, "Jika virus amoeba bisa bertahan hidup selama 30.000 tahun, tidak ada alasan virus lain tidak bisa melakukan hal yang sama." Kita sedang bermain-main dengan kotak pandora biologi.
Kesimpulan
Kebangkitan Pithovirus adalah peringatan dini dari alam. Mencairnya permafrost akibat perubahan iklim bukan hanya soal naiknya permukaan air laut, tapi juga soal terbukanya "Kotak Pandora" biologi.
Di bawah lapisan es kutub yang sedang menipis itu, mungkin masih tersimpan jutaan mikroba purba lainnya yang sedang menunggu giliran untuk menyapa dunia modern. Kita harus bersiap, karena apa yang terkubur di masa lalu, belum tentu tetap tinggal di masa lalu.
- PNAS - "Thirty-thousand-year-old distant relative of giant icosahedral DNA viruses".
- Nature Journal - "Giant viruses: The extensive Pithovirus family".
- BBC Science & Environment - "Virus resurrected from 30,000-year-old permafrost".
Komentar