Mimivirus memiliki ukuran raksasa dan kompleksitas genetik yang membingungkan hingga sempat dikira sebagai bakteri.
Dalam pelajaran biologi dasar di sekolah, kita selalu diajarkan sebuah garis pemisah yang tegas antara makhluk hidup dan benda mati. Di satu sisi ada bakteri, organisme seluler yang hidup, bisa makan, dan berkembang biak sendiri. Di sisi lain ada virus, partikel parasit yang dianggap berada di ambang kehidupan karena mereka tidak memiliki sel dan membutuhkan inang untuk bereplikasi. Namun, pada awal abad ke-21, garis batas yang rapi tersebut tiba-tiba menjadi kabur dan membingungkan para ahli mikrobiologi di seluruh dunia. Penyebab kekacauan teori ini adalah ditemukannya sebuah entitas mikroskopis yang melanggar semua aturan umum tentang virus. Ia berukuran raksasa, memiliki struktur genetik yang sangat kompleks, dan bahkan memiliki "virus" yang menjangkitinya sendiri. Organisme aneh ini diberi nama Mimivirus, sebuah nama yang bukan terdengar imut tanpa alasan, melainkan singkatan dari Mimicking Microbe Virus karena kemampuannya yang sempurna dalam meniru perilaku dan penampilan mikroba bakteri.
Kisah penemuan Mimivirus sendiri adalah sebuah komedi kesalahan ilmiah yang berlangsung selama lebih dari satu dekade. Pada tahun 1992, di tengah wabah pneumonia yang melanda sebuah menara pendingin air di Bradford, Inggris, para ilmuwan mengisolasi sebuah organisme di dalam amuba yang mereka yakini sebagai bakteri baru. Karena bentuknya yang bulat dan bereaksi positif terhadap pewarnaan Gram, mereka menamainya Bradfordcoccus dan menyimpannya di dalam lemari pendingin laboratorium. Selama sepuluh tahun, "bakteri" ini diabaikan begitu saja. Baru pada tahun 2003, ketika tim peneliti dari Universitas Marseille, Prancis, mencoba meneliti dinding selnya, mereka menyadari bahwa organisme ini tidak memiliki gen ribosom yang wajib dimiliki oleh semua bakteri. Investigasi lebih lanjut mengungkap fakta yang mengejutkan: benda raksasa itu bukanlah bakteri, melainkan virus terbesar yang pernah ditemukan manusia pada saat itu.
Ukuran Yang Melawan Logika
Apa yang membuat Mimivirus begitu istimewa hingga bisa menipu para ilmuwan selama bertahun-tahun? Jawabannya terletak pada ukuran fisiknya yang "tidak masuk akal" untuk standar virus. Sebagian besar virus di dunia ini memiliki ukuran yang sangat kecil, berkisar antara 20 hingga 300 nanometer, sehingga mereka tidak bisa dilihat menggunakan mikroskop cahaya biasa dan harus menggunakan mikroskop elektron yang canggih. Namun, Mimivirus memiliki diameter kapsid mencapai 400 hingga 800 nanometer, sebuah ukuran yang menyaingi atau bahkan melebihi ukuran beberapa bakteri parasit kecil seperti Mycoplasma genitalium.
Ukurannya yang masif ini membuat Mimivirus dapat terlihat jelas sebagai bintik kecil di bawah lensa mikroskop cahaya standar, alat yang biasanya hanya digunakan untuk melihat sel darah atau bakteri. Selain itu, kapsid atau kulit pelindung virus ini diselimuti oleh lapisan serat protein yang tebal, membuatnya tampak "berbulu" seperti bakteri gram-positif. Fitur fisik inilah yang menjadi kamuflase sempurna bagi Mimivirus, memungkinkannya bersembunyi di depan mata para peneliti yang tidak pernah menyangka bahwa ada virus yang bisa tumbuh sebesar itu. Penemuan ini memecahkan rekor virologi dan membuka pintu bagi penemuan virus-virus raksasa lainnya di kemudian hari, seperti Pandoravirus dan Pithovirus, yang semakin menegaskan bahwa dunia virus jauh lebih beragam daripada yang kita duga.
Kode Genetik Yang Sangat Rumit
Kejutan dari Mimivirus tidak berhenti pada penampilan luarnya saja. Ketika para ilmuwan membedah isi perutnya untuk memetakan kode genetiknya, mereka menemukan kompleksitas yang mencengangkan. Virus biasa, seperti virus influenza atau HIV, biasanya hanya membawa segelintir gen (sekitar 10 hingga 100 gen) yang murni berfungsi untuk membajak sel inang. Mereka adalah paket hemat yang efisien. Namun, Mimivirus adalah monster genetik yang membawa lebih dari 1,2 juta pasangan basa DNA dan memiliki sekitar 979 gen penyandi protein. Jumlah ini jauh melampaui jumlah gen yang dimiliki oleh beberapa bakteri hidup.
Yang lebih membingungkan, di dalam tumpukan gen raksasa tersebut, Mimivirus memiliki gen-gen yang seharusnya hanya dimiliki oleh organisme seluler mandiri, seperti gen untuk sintesis protein, perbaikan DNA, dan metabolisme dasar. Keberadaan gen-gen "makhluk hidup" ini memicu perdebatan sengit di kalangan ilmuwan: Apakah Mimivirus ini dulunya adalah sel hidup yang mengalami evolusi mundur (*de-evolusi*) menjadi parasit? Ataukah virus ini sedang berevolusi maju mencoba menjadi sel hidup? Fakta ini memunculkan hipotesis baru tentang "Domain Kehidupan Keempat", yang menempatkan virus raksasa sebagai cabang kehidupan yang setara dengan Archaea, Bakteri, dan Eukariota.
Virus Yang Bisa Sakit
Bukti pamungkas yang membuat status Mimivirus semakin unik adalah ditemukannya fenomena parasitisme bertingkat. Karena ukurannya yang besar dan kompleks, Mimivirus ternyata bisa menjadi inang bagi virus lain yang lebih kecil. Pada tahun 2008, peneliti menemukan virus kecil bernama Sputnik yang menempel pada Mimivirus. Sputnik ini tidak bisa mereplikasi dirinya sendiri di dalam amuba; ia harus membonceng masuk ke dalam pabrik replikasi Mimivirus, lalu membajak mesin fotokopi Mimivirus untuk memperbanyak dirinya sendiri. Akibatnya, produksi Mimivirus menjadi terganggu dan cacat.
Ini adalah konsep yang revolusioner: sebuah virus yang bisa "terinfeksi" oleh virus lain, atau dengan kata lain, virus yang bisa "sakit". Dalam biologi, kemampuan untuk menderita penyakit biasanya adalah ciri khas makhluk hidup. Keberadaan Sputnik (yang diklasifikasikan sebagai Virophage atau pemakan virus) memberikan argumen kuat bagi mereka yang percaya bahwa virus raksasa seperti Mimivirus sejatinya adalah organisme hidup, bukan sekadar partikel kimia mati. Hubungan rumit antara Amuba, Mimivirus, dan Sputnik menciptakan ekosistem mikroskopis yang mirip dengan rantai makanan di dunia hewan, di mana selalu ada ikan yang lebih besar dan parasit yang lebih kecil.
Kesimpulan
Mimivirus bukan sekadar penemuan spesies baru; ia adalah tantangan intelektual yang memaksa kita menulis ulang buku teks biologi. Keberadaannya menghancurkan dogma lama tentang kesederhanaan virus dan membuktikan bahwa alam semesta mikroskopis masih menyimpan misteri yang belum terjamah. Dari kasus salah identifikasi selama satu dekade hingga perdebatan tentang status kehidupannya, Mimivirus mengajarkan para ilmuwan untuk selalu skeptis dan rendah hati.
Mungkin batas antara hidup dan mati tidaklah setajam garis hitam dan putih, melainkan sebuah spektrum gradasi yang luas. Mimivirus berdiri tegak di area abu-abu tersebut, sebagai raksasa penipu yang diam-diam menyimpan rahasia evolusi kehidupan di Bumi, menunggu untuk diungkap oleh mereka yang berani melihat melampaui apa yang dianggap mungkin.
- Nature Journal - "The 1.2-Megabase Genome Sequence of Mimivirus".
- Science Magazine - "Virophages: Viruses that infect viruses".
- National Center for Biotechnology Information (NCBI) - "Mimivirus: The Giant among Viruses".
Komentar