Kita sering membenci virus. Tapi sains membuktikan, tanpa gen virus purba bernama Syncytin, manusia mustahil bisa hamil dan membentuk plasenta.
Selama ini, kita selalu menganggap virus sebagai musuh bebuyutan. Virus flu membuat kita demam, COVID-19 mengunci dunia, dan HIV menghancurkan kekebalan tubuh.
Tapi bagaimana jika saya katakan bahwa keberadaanmu di dunia ini—dan keberadaan seluruh umat manusia—sebenarnya berhutang budi pada virus?
Fakta sains membuktikan sebuah ironi besar: Tanpa bantuan gen virus purba, seorang ibu tidak akan pernah bisa hamil dan melahirkan bayi.
Kami Bukan Manusia Murni
Mari kita bedah tubuh kita. Ternyata, DNA manusia tidaklah 100% murni. Sekitar 8% dari genom manusia adalah sisa-sisa virus purba yang disebut HERV (Human Endogenous Retrovirus).
Hadiah dari Sang Pembunuh
Lantas, apa gunanya sampah virus itu? Ternyata tubuh kita mendaur ulangnya. Salah satu gen virus itu bernama Syncytin.
Ingat, janin mengandung DNA ayah (orang asing). Tanpa lapisan pelindung canggih dari Syncytin, sistem imun ibu akan menyerang janin itu karena dianggap benda asing (seperti tumor/penyakit), dan terjadilah keguguran.
Kesimpulan
Inilah ironi terbesarnya. Gen yang dulunya dipakai virus untuk menyerang sel, kini dipakai manusia untuk melindungi bayi.
Tanpa infeksi virus purba jutaan tahun lalu itu, mamalia mungkin tidak akan pernah berevolusi menjadi makhluk yang melahirkan (vivipar). Kita mungkin masih bertelur. Jadi, berterima kasihlah pada virus yang ada di dalam DNA-mu.
- National Institutes of Health (NIH) - Ancient viral molecules essential for human development.
- Virology Journal - The role of HERVs in Placenta formation.
Komentar