Misteri 'Roti Berdarah' di abad pertengahan terpecahkan. Pelakunya bukan hantu, tapi bakteri Serratia marcescens. Kenali ciri-cirinya di rumahmu.
Pada masa Abad Pertengahan, Eropa sering digemparkan oleh laporan fenomena "mukjizat" yang menakutkan sekaligus menakjubkan di gereja-gereja. Para pendeta dan jemaat sering menemukan roti perjamuan (hosti) atau makanan berbahan tepung yang disimpan di tempat lembap tiba-tiba mengeluarkan cairan merah segar menyerupai darah manusia.
Kejadian ini sering dianggap sebagai pertanda buruk, kutukan, atau pesan ilahi yang memicu kepanikan massal hingga pembantaian kaum tertentu yang dituduh menyihir roti tersebut. Namun ratusan tahun kemudian, ilmu mikrobiologi akhirnya mengungkap bahwa "darah" tersebut sebenarnya adalah ulah dari sebuah bakteri unik bernama Serratia marcescens.
Si Pelukis Merah Prodigiosin
Serratia marcescens adalah bakteri berbentuk batang gram-negatif yang memiliki kemampuan spesial untuk menghasilkan pigmen berwarna merah terang. Pigmen atau zat warna alami yang dihasilkan oleh bakteri ini diberi nama ilmiah Prodigiosin, diambil dari kata prodigy atau keajaiban, karena kemampuannya meniru warna darah segar dengan sangat sempurna.
Bakteri ini sangat menyukai tempat-tempat yang lembap dan kaya akan zat pati atau tepung, seperti roti, nasi basi, atau bubur jagung (polenta). Ketika suhu lingkungan hangat dan lembap, koloni bakteri ini akan berkembang biak dengan sangat cepat di atas permukaan makanan tersebut, menciptakan lapisan lendir berwarna merah darah yang membuat siapa saja yang melihatnya di zaman dulu merinding ketakutan.
Hantu di Kamar Mandi Kita
Meskipun kisah "roti berdarah" terdengar seperti sejarah kuno, sebenarnya kita masih sering bertemu dengan bakteri ini dalam kehidupan sehari-hari di rumah modern. Coba perhatikan dinding keramik kamar mandi, tirai shower, atau pinggiran tempat sabunmu yang sering basah; apakah ada noda lendir berwarna merah muda (pink) atau oranye yang membandel?
Noda yang sering kita sebut "lumut merah" atau jamur itu sebenarnya adalah koloni Serratia marcescens yang sedang tumbuh subur memakan sisa-sisa sabun dan lemak tubuh kita. Mereka sangat tangguh dan bisa bertahan hidup di lingkungan yang miskin nutrisi sekalipun, asalkan ada kelembapan yang cukup untuk mereka memproduksi pigmen merahnya.
Eksperimen Militer yang Fatal
Selama bertahun-tahun, para ilmuwan mengira Serratia marcescens hanyalah bakteri "penipu" yang tidak berbahaya bagi kesehatan manusia (non-patogen). Karena anggapan ini dan warnanya yang mencolok, Angkatan Laut Amerika Serikat pernah menggunakan bakteri ini dalam eksperimen rahasia bernama Operation Sea-Spray pada tahun 1950 di San Francisco.
Mereka menyemprotkan jutaan bakteri ini ke udara kota untuk mensimulasikan serangan senjata biologis, dengan asumsi bakteri merah ini hanya akan menjadi penanda jejak yang aman. Ternyata dugaan itu salah besar, karena tak lama setelah penyemprotan, rumah sakit di daerah tersebut mulai menerima pasien dengan infeksi saluran kemih dan pneumonia aneh yang disebabkan oleh bakteri merah tersebut, bahkan menewaskan seorang pasien bernama Edward Nevin.
Kesimpulan
Kisah Serratia marcescens mengajarkan kita bahwa apa yang terlihat oleh mata tidak selalu seperti apa yang kita duga. Di masa lalu, ketidaktahuan manusia membuat bakteri ini dianggap sebagai mukjizat berdarah, sementara di era modern, kesombongan sains sempat menganggapnya sebagai mainan yang tidak berbahaya.
Kini kita tahu bahwa "darah palsu" ini adalah makhluk hidup yang kompleks. Dia bisa menjadi sekadar noda pink yang mengganggu di kamar mandi, namun juga bisa menjadi patogen oportunis yang berbahaya jika sistem kekebalan tubuh kita sedang lemah.
- American Society for Microbiology - "Serratia marcescens: The Miracle Bacillus".
- Smithsonian Magazine - "How the US Navy Sprayed a Bio-Weapon on San Francisco".
- Journal of Bacteriology - Prodigiosin Pigment.
Komentar